Showing posts with label Cerita Foto. Show all posts
Showing posts with label Cerita Foto. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Ibu,Selamat...

Anak kecil di foto ini sekarang sudah semakin tua. Anak kecil di foto ini kelak adalah yang melahirkan dan membesarkan saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai seorang ibu. Anak kecil di foto ini adalah malaikat yg selalu menemani setiap langkah saya. Anak kecil di foto ini adalah segalanya...

Selamat hari ibu, 22 Desember 2014

Friday, December 12, 2014

Cermin-cermin di Dinding

Kita terlalu sama dalam banyak hal.

Kamu yang banyak dipuja. Aku yang banyak dikagumi. Kamu yang egois. Aku yang berfikir keras. Kamu yang tidak mau disalahkan. Aku yang selalu merasa benar. Kamu yang tidak pernah mau kalah. Aku yang selalu ingin menang. Kamu yang menyimpan rasa cemburu. Aku yang menahan kegalauan. Kamu yang menyembunyikan rindu. Aku yang mencoba menjaga harga diri. Kamu yang berusaha untuk tegar. Aku yang berjuang menjadi kuat. Kamu yang tidak suka dengan konsep berlebihan. Aku yang mencintai kesederhanaan. Kamu yang menjaga perasaan. Aku yang menghormati sebuah hubungan.

Tapi, demikian. Kita berbeda dalam satu hal. Kamu yang berjalan tanpa rencana. Aku yang melangkah dengan penuh perhitungan.

Seperti saling melengkapi. Seperti saling mengerti. Seperti aku tidak harus bertanya bagaimana perasaanmu. Seperti kamu tidak mesti memintaku untuk mengakui bahwa aku mencintaimu. Seperti katanya Maslow ketika kemarin aku bertemu dengannya. Bahwa manusia perlu belajar dari sesamanya. Karena satu manusia adalah cermin bagi manusia lainnya. Seperti aku dan kamu saat ini.

Tapi demikian, kita terlalu sama untuk bisa bersama. Seseorang tidak mungkin bisa memeluk bayangannya sendiri di cermin.

Inilah paginya di Danau Toba

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Kalau kamu bisa melihat apa yang aku lihat ketika paginya adalah tanggal 21 Agustus 2013, yaitu ketika aku menyaksikan matahari yang mulai malu-malu muncul dari balik perbukitan di atas danau Toba. Maka kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat itu, yaitu perasaan yang keren!

Thursday, December 11, 2014

UNIKO (Usaha Nipu Kolot)

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Namanya Dimas. Dimas Langgeng Dwi Prasetyo. Dia salah seorang sahabat saya dari sejak SMA. Sampai sekarang berarti sudah temenan sekitar 12 tahun. Katanya, kalau dua orang atau lebih sudah sahabatan selama lebih dari delapan tahun itu artinya persahabatan bisa awet seumur hidup mereka. Amin.

Dari 12 tahun bersahabat dengannya, sudah tentu banyak cerita yang kita lewati bersama. Dari mulai manggung bareng, bolos bareng, ngedate bareng sama pacar masing-masing dan lain-lain. Tapi, ada satu cerita paling konyol yang saya ingat tentang dia. Ini ceritanya.

Hari itu sedang libur kuliah. Saya berencana main ke rumah Dimas. Sebelumnya memang belum janjian mau ke rumanya. Tapi ya sudah saya langsung saja main ke rumahnya.

"Assalamualaikum, Dimasnya ada pak?" Itu saya tanya ke bapaknya Dimas.

"Waalaikumsalam. Dimas lagi keluar. Katanya tadi mau main ke rumah Dzikri..." Ini bapaknya Dimas bilang.

"Oh, iya? Saya gak tahu pak." Saya jawab "Mungkin tadi bersimpang jalan pak, coba saya SMS dia pak" Saya mulai merasa ada yang aneh.

"Gak usah, Bapak telepon yang telepon aja..."

Langsung bapaknya nelpon Dimas sebelum saya sempat SMS dia buat konfirmasi kalau saya sedang ada di rumahnya.

"Halo, Dimas. Kamu dimana?" Bapaknya sudah terhubung telepon ke Dimas dengan mode load speaker.

"Iya pak, ini di rumah Dzikri" jawab si Dimas dari sana.

"Oh ada Dzikri-nya?"

"Ada. Ini lagi sama Dzikri"

Ah, salah. Jawaban salah. Ini saya di sini Dimas. Di rumah kamu. Sama bapak kamu!

"Oh ya udah, pulangnya jangan sore-sore. Nitip martabak sekalian, Mas"

"Oke pak, siap."

Klik. Telepon ditutup. Saya senyum mesem-mesem ke bapaknya Dimas.

"Gak tahu itu si Dimas kemana sebenarnya..."

"Hehe..iya pak..."

Saya mau membela si Dimas juga gak enak. Mau SMS dia pun susah karena takutnya bapaknya curiga.

"Kenapa pak?" Ibunya Dimas keluar dari dapur.

"Itu si Dimas, tadi bilangnya mau ke rumah Dzikri. Bapak telepon katanya lagi di rumah Dzikri. Ada Dzikrinya di sana. Apa kan si Dzikrinya juga di sini."

"Terus kemana itu si Dimas?"

"Ah, paling juga ke rumah pacarnya."

Jadi ceritanya waktu itu si Dimas lagi backstreet sama pacarnya. Buat bisa ketemu, dia harus nipu-nipu dikitlah. Kamu juga pasti pernah gitu kan? :p

Saya berniat mau pulang. Tapi ditahan sama orang tuanya Dimas. Suruh nunggu katanya. Sekalian buat bukti kalau dia tadi berbohong. Aduh...

Gak lama Dimas pulang.

"Tuh, si Dimas." Tunjuk bapaknya.

"Assalamualaikum." Dimas masuk ke rumah. Dan langsung melihat saya ada duduk bareng bapaknya.

"Darimana mas?" Bapaknya tanya dia.

"Dari rumah Dzikri." Jawab Dimas kikuk.

"Ada tadi Dzikri nya di rumah?"

"Adaaaaaa..." Jawab Dimas sedikit kesal, campur bingung, campur bete, campur yang lainnya juga kayaknya.

Saya sudah gak tahan ingin ketawa. Ah, Dimas...bodoh banget sih mau bohong gak janjian dulu, jadi aja kan ketahuan! Hahaha...

Itu kejadiannya sekitar enam tahun yang lalu. Sekarang mah dia udah gak pernah nipu-nipu orang tua nya lagi buat janjian sama pacarnya. Sekarang mah, hari ini, dia dan pacarnya udah tunangan. Mau menikah sebentar lagi. Selamat Dimas. Semoga semua urusannya lancar sampai ke pernikahan dan jadi keluarga yang bahagia. Nanti kalau anak kamu mau nipu orang tua, ajarin dulu biar gak kayak kamu dulu itu. Hahaha

Bunga Buat Kamu

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Saya belajar menanam bunga dari nenek saya.

Waktu kecil saya suka disuruh nyiram bunga sama nenek saya di tamannya. Nenek saya memang seorang yang sangat suka dengan bunga. Bunganya banyak banget. Setiap nenek saya pergi kemana, terus lihat bunga yang bagus dia ijin petik. Terus sampai rumah dia cangkok batangnya. Gak lama jadi deh bunga sendiri.

Setiap yang dia tanam pasti tumbuh. Gak cuma bunga, pohon buah-buahan juga dia tanam di tamannya. Anehnya, setiap yang ditanam sama nenek saya mah pasti rasa buahnya itu nanti beda dengan buah yang biasa dibeli atau ditanam orang lain. Jambu, mangga, durian, alpukat dan lain-lain yang ditanamnya pasti rasanya lebih enak. Pernah waktu itu bawa alpukat dari pohon nenek buat dikasih ke dosen, eh malah langsung ditawarin buat nyuplai alpukat ke Es Teler 7*. Katanya alpukatnya beda. Enak.

Pernah suatu minggu waktu kecil saya disuruh nyiram dan ngejaga bunga nenek selama dia pergi keluar kota. Aneh, kalau saya asal siram, bunganya keliatan gak seger. Besoknya saya siram dengan coba sambil senyum dan ngajak ngobrol ke bunganya kayak biasa nenek saya lakukan kalau lagi nyiram bunga, dan hasilnya bunga-bunga itu nampak lebih segar, kayak lagi senyum.

Itulah, mungkin kita suka lupa kalau mereka (bunga,pohon dan rumput) juga mahluk hidup yang bisa berkomunikasi. Berkomunikasi dengan nenek saya.

Oh ya, sore ini, bunganya udah mekar. Wangi. Kamu tahu, bunga ini aku tanam buat kamu. Sengaja aku tanam sendiri buat kamu. Karena kalau beli, semua orang bisa beli, banyak...