Showing posts with label Kumpulan Cerita. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerita. Show all posts

Tuesday, November 10, 2015

Sembrani dan Santet Cinta

1.

Pukul 05.05 alarm dari iPhone saya berbunyi. "Kring..kring..kring". Bunyi bel klasik. Bukan bunyi-bunyian tekno modern yang banyak dipasang orang sebagai bunyi alarmnya. Buat saya, bunyi bel klasik memiliki semacam kekuatan magis yang dapat masuk ke dalam alam bawah sadar untuk membangunkan saya dari rupa-rupa mimpi yang datang semalam. Sedangkan pukul 05.05 sendiri adalah kombinasi angka yang saya kira cukup menarik. Lima-nol-lima. Okelah, saya pilih kombinasi angka dan bunyi itu membangunkan tidur saya setiap pagi.

Pagi ini saya masih dalam perjalanan dari Semarang menuju Surabaya menggunakan Kereta Sembrani. Perjalanan saya kali ini ke Surabaya adalah untuk menemui calon klien yang katanya akan membangun sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produk retail. Mereka membutuhkan konsultan branding untuk konsep brand perusahaan yang akan dibangunnya tersebut. Seharusnya saya berangkat langsung dari Bandung menggunakan pesawat, tapi karena weekend kemarin ada pameran fotografi Kota Lama di Semarang, ya sekalian saja dari Bandung saya mampir dulu ke Semarang dan kemudian baru berangkat ke Surabaya juga menggunakan kereta.

Ya, intinya sih selama ada jalur kereta, saya akan selalu memilih menempuh perjalanan menggunakan si kuda besi. Buat saya berkendara dengan kereta adalah aktivitas jiwa yang baik. Banyak cerita dan pengalaman menarik setiap kali menempuh perjalanan dengan menggunakan kereta yang akhirnya menambah wawasan dan pemahaman saya tentang kehidupan.

2.

Seperti pagi hari kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi (entah berapa banyak pagi kemarin yang saya lalui dengan rutinitas yang sama), setelah bisa membuka mata pukul 05.05, sebetulnya saya tidak langsung benar-benar bangun. Ya, baru separuh nyawa yang bisa dikatakan bangun dari tidur. Harus ada bantuan dari secangkir kopi hitam panas untuk membangunkan separuh lagi nyawa yang masih meringkuk, belum sadarkan diri. Karena itu, saya segera menuju kereta makan untuk memesan secangkir kopi hitam panas.

"Bu, kopi hitam satu. Yang panas ya, bu."

"Oke mas."

"Oh ya, gak usah pakai gula, bu."

"Siap!"

Daya toleransi tubuh saya terhadap kafein sepertinya semakin meningkat dari hari ke hari menuju level yang saya sebut mengkhawatirkan. Sekarang saya sudah tidak bisa merasakan kenikmatan kopi manis atau dengan rasa seperti capucinno, mochacinno, latte, caramel dan sebagainya. Kopi semacam itu sudah tidak mempan buat saya. Kopi saya harus hitam, panas dan pahit, tanpa gula. Menurut filosofinya, orang yang meminum kopi hitam pahit itu mempunyai karakter yang kuat, berani, tidak suka bertele-tele, apa adanya dan sedikit kasar. Ya, mungkin itu adalah alasan lain kenapa saya sangat suka dengan kopi hitam pahit. Karena kopi itu cukup merepresentasikan bagaimana kepribadian saya.

Sepasang suami istri memasuki ruangan kereta makan, duduk di depan meja saya, berhadapan dan kemudian mereka memesan mie instan untuk sarapannya.

"Bu, mie instan dua, pakai telor ya."

"Iya, pak."

Si bapak tersenyum ke arah saya dan spontan saya langsung membalas senyum ramahnya itu.

"Kopi pak." Saya menawarkan kopi, mencoba basa basi untuk menghangatkan suasana.

"Silakan mas, mau sarapan dulu. Hehe..."

"Oh, iya. Hehe..."

Si bapak di hadapan saya umurnya kira-kira 35 tahun dan istrinya tampak lebih muda, mungkin seusia saya, 26 tahun. Saya ajak mereka ngobrol sambil minum kopi. Si bapak namanya pak Sugiyo. Beliau adalah seorang satpam perkebunan di daerah Banyuwangi. Beliau dan keluarganya baru pulang dari Semarang menghadiri pernikahan saudara mereka di daerah Simpang Lima.

"Mau ke Surabaya nengokin pacarny ya, mas? Hehe..." Si istri ikutan nimbrung.

"Hehe...gak bu,ini ada kerjaan aja ke Surabaya." Jawab saya kaget atas pertanyaan monohok itu. "Lagian saya belum punya pacar bu. Hehe..."

"Oalah...ganteng-ganteng kok gak punya pacar toh?" Si istri tertawa kecil,entah meledek atau menggoda.

"Iya nih bu, gak ada yang mau ke saya. Hehe..."

"Harus dikasih 'santet cinta' nih pak..." Si istri tersenyum sambil melihat ke arah ke pak Sugiyo.

Hah? Santet cinta? Apaan tuh??? Perasaan saya mendadak jadi gak enak.

Menurut kepercayaan masyarakat di daerah pak Sugiyo, untuk melancarkan jodoh seseorang bisa meminta bantuan ke orang sakti di sana. Caranya orang tersebut bisa dipakaikan susuk, diberi jimat ataupun dikirimkan jampi-jampi ke pasangan yang diinginkan biar dia mau mendekat.

"Wah saya mah gak percaya pak yang gitu-gituan. Hehe..." Yang bener aja masa saya cari jodoh pakai bantuan dukun. Huhu...

"Awalnya saya juga gak percaya, mas. Dulu waktu masih muda, saya orangnya pemalu. Jangankan ngedeketin cewek, ketemu cewek aja saya gak percaya diri, mas" pak Sugiyo menjelaskan dengan menggebu-gebu."Terus saya diajak temen saya ke orang sakti dan dikasihnya saya batu. Katanya batu itu disakuin aja,nanti tinggal lihat banyak cewek yang datang. Eh, pas saya pulang itu bener mas cewek-cewek itu jadi banyak yang nyamperin ke saya."

"Oh gitu pak?" Saya melihat istrinya dan kemudian muncul pertanyaan: jangan-jangan dia dijampi-jampi juga.

"Iya mas, kalau sampeyan mau bisa saya antar ke tempat guru saya." Guru yang dimaksudnya adalah panggilan untuk orang sakti yang dipercaya mempunyai kemampuan supranatural untuk memasang santet cinta tersebut.

"Haha...gak deh pak, saya yang alami-alami saja. Kalau sudah ada jodohnya, inshaAllah gak susah kok pak."

"Iya mas, itu pilihan saja. Hehe..."

3.

Kereta yang kami tumpangi sudah menurunkan laju kecepatannya. Oh, ini sudah sampai di Stasuin Surabaya Pasar Turi. Terima kasih pak masinis, terima kasih mbak pramugari, terima kasih pak Sugiyo. Santet Cinta, ah ada-ada saja....

Monday, October 26, 2015

Penyusup di Stasiun Bogor

Perjalanan pertama saya menggunakan kereta api sebenarnya bisa dibilang cukup ekstrim, berbahaya dan sangat nakal. Waktu itu, sekitar akhir tahun 90-an, saya masih duduk di bangku kelas 5 SD, permainan mobil Tamiya sedang happening di Cibadak, sebuah kota kecil di Sukabumi yang menjadi kota kelahiran saya. Semua anak kecil sepertinya sedang keranjingan mainan dari negeri sakura ini. Berbagai macam kejuaran Tamiya pun banyak diselenggarakan. Dari mulai kejuaran balap Tamiya sampai kejuaraan modifikasi Tamiya dengan tampilan paling keren dan unik. Semua anak berlomba-lomba menghias dan memodifikasi “mobil”nya sekeren dan secepat mungkin. Tidak terkecuali saya.

Demi memenangkan kejuaran Tamiya itu, saya dan sepupu saya nekad berangkat ke Bogor dengan menggunakan kereta api untuk membeli suku cadang mobil Tamiya yang bagus. Di daerah Jembatan Merah, tidak jauh dari Stasiun Bogor, ada sebuah toko mainan yang menjual lengkap aneka suku cadang mobil Tamiya. Tentu saja rencana perjalanan kami ke Bogor waktu itu tanpa sepengetahuan dan izin dari orang tua. Setahu mereka, kami sedang main di rumah teman.

*

Jalur kereta api rute Sukabumi – Bogor mulai terhubung sejak tanggal 21 Maret 1882 dengan jalur lintasan meliputi Stasiun Sukabumi – Stasiun Cisaat – Stasiun Cibadak – Stasiun Parungkuda – Stasiun Cicurug – Stasiun Cigombong – Stasiun Maseng – Stasiun Ciomas – Stasiun Batutulis dan Stasiun Bogor. Kami berangkat ke Bogor dari Stasiun Cibadak, tanpa membeli karcis.

“Gak usah beli karcis, gak ada duitnya juga.” itu sepupu saya yang bilang.

“Oh gitu, terus nanti gimana kalau diperiksa gak punya karcis?”

“Gampang, nanti kita sembunyi aja di toilet.”

“Ya udah atuh.”

Sebenarnya, bagian paling yang saya tunggu ketika menaiki kereta api adalah justru bagian pemeriksaan karcis. Ketika kondektur memeriksa karcis dan mengeluarkan alat ajaibnya : Pembolong Karcis! Alat ajaib itulah yang selalu membuat saya bahagia ketika mendengar bunyi “Cekrek!” tanda karcis sudah diperiksa dan dilubangi. Kebahagiaan yang sederhana untuk seorang anak kecil seperti saya. Tapi, karena hari itu saya tidak mempunyai karcis, dengan terpaksa saya harus menghindari bagian terbaik itu dan memilih untuk sebisa mungkin menghindari kondektur.

Selama perjalanan, saya sudah ingin pingsan karena mencium bau keringat, bau toilet dan udara gerbong yang pengap, sesak oleh asap rokok serta penumpang yang jumlahnya sudah melebihi kapasitas tempat duduk. Maklum, kereta ekonomi dulu itu memang benar-benar “ekonomis”, baik dari segi harga, fasilitas dan pelayanannya. Kereta ekonomi waktu itu juga dikenal rawan pencopetan dan tindak kriminal lainnya. Untung saja, sekarang PT. KAI sudah memperbaiki layanannya dengan menyediakan rangkaian kereta ekonomi yang sudah dilengkapi dengan AC, petugas keamanan, tempat duduk yang nyaman dan bebas asap rokok.

Meskipun keadaan kereta ekonomi waktu itu masih mengkhawatirkan, tapi semua sepertinya terbayar oleh pemandangan indah sepanjang perjalanan. Kereta yang kami tumpangi melewati hamparan hijaunya pepohonan, membelah pegunungan yang meliuk-liuk, dan melintasi beberapa sungai, diantaranya Sungai Cipaku, Sungai Cisadane, Sungai Cibadak, Sungai Cigembrong, Sungai Cilingsir, Sungai Cigombong, Sungai Cibeber, Cibojong, Sungai Cipalasari dan Sungai Cicatih.

*

Setelah sekitar 2 jam perjalanan dan lolos dari pemeriksaan kondektur, akhirnya kami sampai di Stasiun Bogor. Itu adalah kali pertama saya menginjakan kaki di Stasiun Bogor yang ternyata sangat besar dan ramai, dibandingkan dengan stasiun kecil kami di Cibadak. Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang memadati stasiun ini. Saya, seorang siswa kelas 5 SD, baru sadar mungkin saya bisa saja hilang di stasiun besar ini. Karena itu, saya menjaga untuk tidak berjauhan dengan sepupu saya yang memang orang Bogor dan pernah ke sini.

Saya kira masalah kami hanya sebatas pemeriksaan karcis oleh kondektur di kereta api. Ternyata ada masalah lain ketika kami hendak keluar dari stasiun. Berbeda dengan stasiun kecil di Cibadak, sistem keamanan di stasiun besar seperti Stasiun Bogor ini lebih ketat. Penumpang yang tidak mempunyai karcis kereta tidak diperbolehkan keluar stasiun dan diwajibkan membayar denda. Artinya, kami tidak bisa keluar dari stasiun dan membeli suku cadang mobil Tamiya yang menjadi tujuan kami datang ke Kota Hujan ini.

Untungnya sepupu saya mempunyai sebuah ide yang cemerlang (atau mungkin lebih mendekati kata gila daripada cemerlang).

“Nanti, kamu pegang saja lengan kemeja bapak yang itu. Aku pegang tas ibu yang ini. Biar disangka sama penjaga stasiun kita ini anak mereka” dia menjelaskan rencana jeniusnya.

“Ok!”

Saya yang waktu itu masih lugu, polos dan sedikit bodoh mengikuti rencananya. Saya memegang erat lengan kemeja bapak tua yang gak jelas siapa dia. Rencana tersebut sukses, saya berhasil melewati penjaga karcis sehingga bisa keluar dari stasiun tersebut. Tapi, kemana sepupu saya? Sempat terpisah beberapa saat, saya merasa ketakutan akan benar-benar hilang di stasiun ini.

“Dzikri!” suara kecil dari sepupu saya akhirnya menghilangkan rasa takut itu. Dia pun ternyata berhasil melewati penjagaan karcis setelah berjalan sambil menggandeng tas perempuan di sampingnya. Entah disebut berhasil atau sebenarnya petugas stasiun mengetahui modus kami dan membiarkan kami melewatinya, tapi kalau dipikir dengan akal sehat sekarang, saya cukup takut mengingat kejadian tersebut sambil membayangkan bagaimana kalau seandainya waktu itu kami diculik di stasiun? Atau dibawa oleh bapak dan ibu yang kami pegang kemejanya? Atau tertangkap penjaga stasiun dan kemudian dilaporkan ke polisi? Duh…dasar anak-anak nakal!

Saturday, January 17, 2015

Majelis #1

1.
Q : Bang, aku udah punya pacar. Tapi aku lagi naksir berat sama orang lain juga sampe ke bawa mimpi 7 kali. Aku harus gimana bang? :'(

A : Naksir mah boleh aja, tapi kamu harus tahu nanti kamu harus milih salah satu.

2.
Q : Biar bisa hubungan langgeng itu gimana ya?

A : Jaga kepercayaan, caranya dengan menjaga komunikasi...

3.
Q : Kaka, aku mau curhat tentang cinta. Aku udah lama jalin hubungan selama 3 tahun. Hubungannya putus nyambung sih. Aku dan dia beda agama.Orang tuanya dia kenal aku, sampai dianggap anak nya sendiri. Dia sudah banyak berkorban buat aku, tapi tahun 2014 lalu hubungan kami bener-bener sudah gak cocok. Sampai akhirnya kini kami bener-bener putus kak. Yang aku heranin kenapa dia dengan mudahnya dapat pengganti ku. Dulu memang aku sering nyia-nyiain dia. Tidak mengganggap dia ada, tapi kini aku sadar. Dia sangat berati dalam hidupku, setiap saat aku keinget dia terus. Kemarin-kemarin aku sudah minta maaf ke dia dan ngajak balikan, tp dia gak mau kak, alasanya cinta nya sudah hilang. Apa yang harus aku lakuin sekarang kak ? Merjuangin cintaku, nunggu dia kembali dalam hidup ku lagi. Atau aku harus benar-benar pergi dari kehidupan dia? Minta solusinya ya kak. Makassih

A : Kamu cinta sama dia? Kalau iya, biarin dia bahagia dengan caranya, kamu juga harus bahagia dengan caramu sendiri.

4.
Q : Bang, gue mau curhat. Gue bentar lagi 19 taun dan gue sampe sekarang masih single dan belum pernah pacaran. Ga tau kenapa rasanya susah buka hati buat cowo lagi. Gue terakhir suka sama cowo kelas 2 SMA dan ngrasain sakit hati gara-gara dia. Dan sakit hati itu baru bisa ilang setelah 1 taun. Bahkan sampe sekarang kadang kalo gue liat dia sama cewenya, suka sebel gitu. Gue kudu gimana ya bang? Dibilang ngebet pacaran ya engga juga si, cuma bingung aja kadang :D

A : Ya..sabar aja, jalanin yang lain dulu, masih banyak kan yang harus dijalanin, jodoh mah nanti datang sendiri, cewek mah :)

5.
Q : Bang, gue lagi deket sama cowo tapi dia lagi pendidikan. Nah tapi tuh cowo gw denger rumor dari temen dan  mantannya oragnya ganjen. Ditinggalin atau diapain?

A : Ah biasa aja, temenan aja dulu, gak usah berharap lebih. Jangan cepet kegeeran berarti.

6.
Q : Hai abang penyalur curhat hhahhaha. Bang mau nanya, gimana pendapat abang tentang cowo yang sibuk tapi jarang ngehubungi.

A : Ada hal lain yang layak diperjuangin gak? kalau gak buat apa :)

7. 
Q : Kan dari pandangan mata sesama cowo, nah apa pendapat kamu bang buat cowo yang ga mau nunjukkin identitas aslinya ke cewe yang dia sayang? Di satu sisi dia sayang sama cewe ini, tapi di sisi lain dia takut cewe ini makin sayang, dan takut kalo suatu saat nanti dia nyakitin cewe ini. Makasi baang :)

A : Mungkin dia gak Pede. Kalian harus ngobrolin banyak soal hubungan, dia nya harus bisa open minded, atau gak kamu yang ngertiin dia.

8. 
Q : A, bulan desember lalu aku putus sama mantan aku, ternyata dari 5 bulan yang lalu dia selingkuh. Sebenarnya aku masih sayang, tapi aku mesti move on tapi aku gak tau caranya :(

A : Ikhlasin. Fokus sama cita-cita aja. Biarin pengkhianat cocoknya sama penggoda.

9. 
Q : Mantan gue kerja, dia selalu ngelarang gue buat macem-macem, tapi dia sendiri ngelakuin itu dan ngebohongin gue. Gue harus gimana bang?

A : Mantan kan? Biarin aja lah, kan udah gak ada apa-apa lagi atuh.

10.
Q : Just one simple question. Bagaimana caranya mengikhlaskan? Ada saran cara ikhlas yang paling ampuh? Thank :|

A : Ikhlas syaratnya cuma satu : percaya apapun yang terjadi itu adalah yang terbaik menurutNya.

11.
Q : Kalau dia bilang lebih nyaman sendiri terus ga lama dari putus sama dia, ga taunya dia udah jadian lagi, bisa disebut apa laki-laki seperti itu bang?

A : Ya kan mungkin aja seseorang berubah langsung ketika ternyata menemukan orang lain kan? Berpikir positif aja kak :)

12.
Q : Menurut kakak ciuman itu apa wajib dalam pacaran? 

A : Gak wajib atuh itu mah, yang wajib mah nikah.





Bersambung....

Tuesday, January 6, 2015

Kursi Setan dan Lintas Sumatera

Setelah berjalan – jalan di Danau Toba dan Pulau Samosir, aku berencana melanjutkan perjalanan ke Padang untuk menaiki kereta wisata Mak Itam di sana. Sayangnya, tidak ada jalur kereta api dari Medan menuju Padang. Sehingga, perjalananku harus dilanjutkan dengan menggunakan bus. Dan hal yang perlu diingat ketika akan melakukan perjalanan lintas Sumatera menggunakan sarana transportasi umum adalah bahwa sarana transportasi tersebut tidak tersedia dalam jumlah banyak. Bahkan kadang hanya ada satu kali perjalanan dalam sehari.

Kebetulan, hari itu masih ada jadwal perjalanan bus ALS (Antar Lintas Sumatera) jurusan Padang yang akan berangkat jam 17.00 WIB. Maka, daripada harus menunggu besoknya lagi, aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan hari itu juga, mengingat rute dan waktu perjalanan sampai ke Padang itu bisa sampai 24 jam.

Masih diantar oleh Ook, Andri dan Wawan, aku menuju pool bus ALS untuk memesan tiket. Sayangnya, ternyata jatah kursi duduk sudah habis. Hanya tinggal jatah “kursi setan” yang tersisa. Kursi setan adalah sebutan untuk kursi jongkok yang disediakan oleh awak bus untuk penumpang yang tetap ingin menumpang busnya.

“Gimana bang, mau duduk di kursi setan?” itu Wawan bertanya “Biasanya nanti juga ada yang turun di tengah jalan, jadi abang bisa gantian duduk. Atau kalau gak mau ya berarti abang pesan tiket bus yang besok aja”

Kalau melihat rute dan perjalanannya yang jauh, aku sebenarnya hampir kehilangan nyali untuk duduk jongkok di jalan yang berkelok – kelok, sudah dipastikan aku akan muntah! Tapi, aku tidak punya pilihan. Kalau harus menunggu besok, berarti aku harus menunggu total dua hari untuk sampai ke Padang. Terpaksa aku membeli tiket “kursi setan” tersebut. Tapi, ternyata keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Ketika bus hendak melaju, salah satu penumpang membatalkan pemesanan tiketnya sehingga aku berkesempatan menukar tiket kursi setan dengan tiket kursi manusia.

***

Armada ALS yang aku tumpangi mulai membelah jalan Sumatera. Pemandangan hutan yang mulai gelap menjelang malam bukanlah pemandangan yang biasa aku saksikan di sepanjang sejarah perjalananku di pulau Jawa. Suara musik melayu dan lagu lawas yang dulu sering aku dengar di radio mulai terdengar mendayu – dayu di speaker bus. Bus terus melaju melintasi rumah – rumah penduduk yang berselang seling dengan gereja – gereja kecil tempat masyarakat sekitar beribadah.

Beberapa kali bus berhenti untuk beristirahat. Ada yang menarik dengan bus ALS ini, setiap kali berhenti penumpang diwajibkan turun dan isi bus dibersihkan dari ujung ke ujung. Sehingga ketika penumpang kembali memasuki bus kembali bersih dan rapih. Penumpang pun dapat tidur dengan nyaman selama perjalanan. Jarang aku temui awak bus yang berkomitmen melayani penumpang seperti ini. Two thumbs up for all of you guys!

Selama perjalanan pun, aku melihat kerjasama antara supir ALS dengan para pengendara lain, karena mereka tidak bisa menyerobot jalan secara sembarangan.  Dari jauh jika sudah melihat ada kelokan sempit namun ada mobil yang sedang menuju arah berlawanan, maka salah satu diantaranya harus berhenti terlebih dulu memberi jalan kepada yang lain. Bayangkan saja kalau para supir itu mengedepankan ego seperti banyak supir di kota besar, sudah dipastikan kendaraan mereka akan jatuh ke jurang!

***

Menjelang pagi, bus sudah mulai memasuki dataran minang. Keadaan geografisnya yang berbukit – bukit dan berkelok – kelok membuatku sedikit pusing. Tapi panoramanya di pagi hari yang tertutup kabut adalah obat mabuk yang luar biasa indah!

Buat aku, orang yang terbiasa bangun pagi langsung melihat cahaya dari monitor sebuah personal computer, menikmati pagi di tengah perjalanan membelah kabut dan hutan adalah sebuah pemandangan yang cukup menakjubkan. Buat aku, orang yang tinggal dalam sebuah masyarakat urban yang individualis, menyaksikan berbagai kearifan lokal masyarakat di sepanjang perjalanan ini adalah sebuah hal yang juga tidak kalah keren. Buat aku, orang yang setiap hari terkurung dalam kamar yang sempit, menyaksikan dunia luar yang begitu luas adalah seperti baru bangun dari mimpi pagi ini.

Wednesday, December 24, 2014

Catatan Sebelum Lahir

Beberapa hari lagi aku akan hadir di kehidupanmu. Tidak akan aku beritahu sebelumnya. Kejutan. Tapi yang jelas, banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu saat nanti kita bertemu. Banyak yang ingin aku ingat kembali bersamamu ketika nanti kita sudah menjadi tua. Banyak yang ingin aku ceritakan bahwa kita pernah menjalani hidup ini berdua, ya hanya berdua.

Manis, pahit, sakit, senang dan sedih kita rasakan dalam hati yang menjadi satu selama ini. Selama lebih kurang sembilan bulan aku bersamamu, dirawat olehmu, diberikan makanan yang sama dengan yang kamu makan, bernafas dengan udara yang sama dengan yang kamu hirup. Sembilan bulan ini adalah berarti selamanya untukku. 

Katamu, tidak sabar ingin segera menemuiku. Sementara kamu hanya bisa mengelus hangat perutmu. Mendekapku bersama tubuhmu, tubuh kita yang menyatu. Dan demi pertemuan kita, kamu rela mengorbankan segalanya, bahkan itu adalah nyawamu.

Kamu tahu, perjalananku untuk bisa menemuimu nanti akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan beresiko. Ya, dalam perjalanan yang sebenarnya hanya berasal dari dalam perutmu menuju ke dunia luar itu mungkin akan membunuhku, membunuhmu, dan atau membunuh kita berdua. Tapi, itulah perjalanan yang kita tunggu selama ini. Perjalanan melewati ruang rindu antara alam nyata dan fana. Perjalanan yang akan mengubah hidupmu dan tentunya memulai hidupku di bumi.

Saat aku sampai nanti dalam dekapanmu, kamu tidak lagi menjadi manusia yang sama. Orang akan mulai memanggilmu dengan panggilan Ibu. Dan aku, akan mulai belajar menjadi manusia. Kita akan bersama-sama merubah dunia menjadi semakin nyata.

Perjalananku itu adalah perjalanan yang akan kembali menjelaskan bahwa kita sungguh tidak mempunyai kuasa melewati sebuah batas kulit yang tipis kecuali dengan perjuangan kita bersama. Sampai nanti akhirnya aku bisa menemuimu, maka itu adalah kemenangan kita melawan kesakitan yang tidak tertahankan.

Tolong ingatkan aku kembali jika kelak setelah besar aku lupa tentang darah yang mengalir di tubuhku ini adalah berasal dari darah yang sama denganmu. Tolong ingatkan aku kembali jika kelak setelah dewasa aku menjadi tidak bijak menggunakan daging dan tulang yang tumbuh bermula dari embrio di dalam rahimmu ini. Tolong ingatkan aku kembali, jika sebenar-benarnya surga yang nanti mungkin seperti jauh aku cari itu ada di telapak kakimu.

Tunggulah, aku akan datang dengan segala kebahagiaan yang kamu tunggu. Tunggulah, aku akan datang menjemput kasih sayang yang sudah kamu persiapkan untuk tidak akan pernah putus. Tunggulah, aku akan datang dan memakai nama yang telah kamu persiapkan. Tunggulah, aku akan datang, segera!


Bulan Juni, 1988. Di dalam rahimmu.

Monday, December 22, 2014

Ibu,Selamat...

Anak kecil di foto ini sekarang sudah semakin tua. Anak kecil di foto ini kelak adalah yang melahirkan dan membesarkan saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya sebagai seorang ibu. Anak kecil di foto ini adalah malaikat yg selalu menemani setiap langkah saya. Anak kecil di foto ini adalah segalanya...

Selamat hari ibu, 22 Desember 2014

Friday, December 12, 2014

Cermin-cermin di Dinding

Kita terlalu sama dalam banyak hal.

Kamu yang banyak dipuja. Aku yang banyak dikagumi. Kamu yang egois. Aku yang berfikir keras. Kamu yang tidak mau disalahkan. Aku yang selalu merasa benar. Kamu yang tidak pernah mau kalah. Aku yang selalu ingin menang. Kamu yang menyimpan rasa cemburu. Aku yang menahan kegalauan. Kamu yang menyembunyikan rindu. Aku yang mencoba menjaga harga diri. Kamu yang berusaha untuk tegar. Aku yang berjuang menjadi kuat. Kamu yang tidak suka dengan konsep berlebihan. Aku yang mencintai kesederhanaan. Kamu yang menjaga perasaan. Aku yang menghormati sebuah hubungan.

Tapi, demikian. Kita berbeda dalam satu hal. Kamu yang berjalan tanpa rencana. Aku yang melangkah dengan penuh perhitungan.

Seperti saling melengkapi. Seperti saling mengerti. Seperti aku tidak harus bertanya bagaimana perasaanmu. Seperti kamu tidak mesti memintaku untuk mengakui bahwa aku mencintaimu. Seperti katanya Maslow ketika kemarin aku bertemu dengannya. Bahwa manusia perlu belajar dari sesamanya. Karena satu manusia adalah cermin bagi manusia lainnya. Seperti aku dan kamu saat ini.

Tapi demikian, kita terlalu sama untuk bisa bersama. Seseorang tidak mungkin bisa memeluk bayangannya sendiri di cermin.

Inilah paginya di Danau Toba

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Kalau kamu bisa melihat apa yang aku lihat ketika paginya adalah tanggal 21 Agustus 2013, yaitu ketika aku menyaksikan matahari yang mulai malu-malu muncul dari balik perbukitan di atas danau Toba. Maka kamu akan merasakan apa yang aku rasakan saat itu, yaitu perasaan yang keren!

Thursday, December 11, 2014

UNIKO (Usaha Nipu Kolot)

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Namanya Dimas. Dimas Langgeng Dwi Prasetyo. Dia salah seorang sahabat saya dari sejak SMA. Sampai sekarang berarti sudah temenan sekitar 12 tahun. Katanya, kalau dua orang atau lebih sudah sahabatan selama lebih dari delapan tahun itu artinya persahabatan bisa awet seumur hidup mereka. Amin.

Dari 12 tahun bersahabat dengannya, sudah tentu banyak cerita yang kita lewati bersama. Dari mulai manggung bareng, bolos bareng, ngedate bareng sama pacar masing-masing dan lain-lain. Tapi, ada satu cerita paling konyol yang saya ingat tentang dia. Ini ceritanya.

Hari itu sedang libur kuliah. Saya berencana main ke rumah Dimas. Sebelumnya memang belum janjian mau ke rumanya. Tapi ya sudah saya langsung saja main ke rumahnya.

"Assalamualaikum, Dimasnya ada pak?" Itu saya tanya ke bapaknya Dimas.

"Waalaikumsalam. Dimas lagi keluar. Katanya tadi mau main ke rumah Dzikri..." Ini bapaknya Dimas bilang.

"Oh, iya? Saya gak tahu pak." Saya jawab "Mungkin tadi bersimpang jalan pak, coba saya SMS dia pak" Saya mulai merasa ada yang aneh.

"Gak usah, Bapak telepon yang telepon aja..."

Langsung bapaknya nelpon Dimas sebelum saya sempat SMS dia buat konfirmasi kalau saya sedang ada di rumahnya.

"Halo, Dimas. Kamu dimana?" Bapaknya sudah terhubung telepon ke Dimas dengan mode load speaker.

"Iya pak, ini di rumah Dzikri" jawab si Dimas dari sana.

"Oh ada Dzikri-nya?"

"Ada. Ini lagi sama Dzikri"

Ah, salah. Jawaban salah. Ini saya di sini Dimas. Di rumah kamu. Sama bapak kamu!

"Oh ya udah, pulangnya jangan sore-sore. Nitip martabak sekalian, Mas"

"Oke pak, siap."

Klik. Telepon ditutup. Saya senyum mesem-mesem ke bapaknya Dimas.

"Gak tahu itu si Dimas kemana sebenarnya..."

"Hehe..iya pak..."

Saya mau membela si Dimas juga gak enak. Mau SMS dia pun susah karena takutnya bapaknya curiga.

"Kenapa pak?" Ibunya Dimas keluar dari dapur.

"Itu si Dimas, tadi bilangnya mau ke rumah Dzikri. Bapak telepon katanya lagi di rumah Dzikri. Ada Dzikrinya di sana. Apa kan si Dzikrinya juga di sini."

"Terus kemana itu si Dimas?"

"Ah, paling juga ke rumah pacarnya."

Jadi ceritanya waktu itu si Dimas lagi backstreet sama pacarnya. Buat bisa ketemu, dia harus nipu-nipu dikitlah. Kamu juga pasti pernah gitu kan? :p

Saya berniat mau pulang. Tapi ditahan sama orang tuanya Dimas. Suruh nunggu katanya. Sekalian buat bukti kalau dia tadi berbohong. Aduh...

Gak lama Dimas pulang.

"Tuh, si Dimas." Tunjuk bapaknya.

"Assalamualaikum." Dimas masuk ke rumah. Dan langsung melihat saya ada duduk bareng bapaknya.

"Darimana mas?" Bapaknya tanya dia.

"Dari rumah Dzikri." Jawab Dimas kikuk.

"Ada tadi Dzikri nya di rumah?"

"Adaaaaaa..." Jawab Dimas sedikit kesal, campur bingung, campur bete, campur yang lainnya juga kayaknya.

Saya sudah gak tahan ingin ketawa. Ah, Dimas...bodoh banget sih mau bohong gak janjian dulu, jadi aja kan ketahuan! Hahaha...

Itu kejadiannya sekitar enam tahun yang lalu. Sekarang mah dia udah gak pernah nipu-nipu orang tua nya lagi buat janjian sama pacarnya. Sekarang mah, hari ini, dia dan pacarnya udah tunangan. Mau menikah sebentar lagi. Selamat Dimas. Semoga semua urusannya lancar sampai ke pernikahan dan jadi keluarga yang bahagia. Nanti kalau anak kamu mau nipu orang tua, ajarin dulu biar gak kayak kamu dulu itu. Hahaha

Bunga Buat Kamu

Foto kiriman dzikrirobbi (@dzikrirobbi) pada

Saya belajar menanam bunga dari nenek saya.

Waktu kecil saya suka disuruh nyiram bunga sama nenek saya di tamannya. Nenek saya memang seorang yang sangat suka dengan bunga. Bunganya banyak banget. Setiap nenek saya pergi kemana, terus lihat bunga yang bagus dia ijin petik. Terus sampai rumah dia cangkok batangnya. Gak lama jadi deh bunga sendiri.

Setiap yang dia tanam pasti tumbuh. Gak cuma bunga, pohon buah-buahan juga dia tanam di tamannya. Anehnya, setiap yang ditanam sama nenek saya mah pasti rasa buahnya itu nanti beda dengan buah yang biasa dibeli atau ditanam orang lain. Jambu, mangga, durian, alpukat dan lain-lain yang ditanamnya pasti rasanya lebih enak. Pernah waktu itu bawa alpukat dari pohon nenek buat dikasih ke dosen, eh malah langsung ditawarin buat nyuplai alpukat ke Es Teler 7*. Katanya alpukatnya beda. Enak.

Pernah suatu minggu waktu kecil saya disuruh nyiram dan ngejaga bunga nenek selama dia pergi keluar kota. Aneh, kalau saya asal siram, bunganya keliatan gak seger. Besoknya saya siram dengan coba sambil senyum dan ngajak ngobrol ke bunganya kayak biasa nenek saya lakukan kalau lagi nyiram bunga, dan hasilnya bunga-bunga itu nampak lebih segar, kayak lagi senyum.

Itulah, mungkin kita suka lupa kalau mereka (bunga,pohon dan rumput) juga mahluk hidup yang bisa berkomunikasi. Berkomunikasi dengan nenek saya.

Oh ya, sore ini, bunganya udah mekar. Wangi. Kamu tahu, bunga ini aku tanam buat kamu. Sengaja aku tanam sendiri buat kamu. Karena kalau beli, semua orang bisa beli, banyak...